
Sabtu pagi. Cucian kemarin masih di mesin, piring bekas sarapan menumpuk, dan galon habis. Kamu menunggu pasangan sadar sendiri, pasangan menunggu diminta.
Jam sepuluh, suasana sudah tegang padahal belum ada yang bicara. Kalau adegan ini terasa akrab, masalahnya hampir pasti bukan soal siapa yang malas, tapi soal pembagian tugas rumah tangga yang tidak pernah benar-benar dibicarakan.
Artikel ini membahas cara membicarakannya dengan tenang, alat sederhana untuk membaginya, contoh pembagian, dan kebiasaan kecil supaya kesepakatannya tidak bubar dalam dua minggu.
Kenapa pembagian tugas rumah tangga sering jadi sumber ribut
Pertengkaran soal piring jarang benar-benar soal piring. Biasanya ada rasa tidak adil yang menumpuk, dan piring hanya pemicunya.
Dua lapis pekerjaan rumah
Tugas rumah punya dua lapis. Lapis pertama terlihat: mencuci, memasak, menyapu. Lapis kedua tidak terlihat: mengingat token listrik hampir habis, tahu stok beras tinggal sedikit, ingat jadwal imunisasi anak, dan merencanakan menu minggu depan.
Lapis kedua ini sering disebut beban mental. Tidak ada yang melihatnya dikerjakan, tapi kalau berhenti, rumah langsung terasa kacau.
Karena tidak terlihat, beban mental jarang dihitung saat pasangan membandingkan siapa yang sudah bekerja lebih banyak.
Keduanya merasa benar, keduanya lelah
Ribut biasanya muncul karena satu orang memikul lapis kedua sendirian. Sementara itu pasangannya merasa sudah membantu karena mengerjakan sebagian lapis pertama.
Keduanya merasa benar, dan keduanya juga lelah. Tanpa daftar yang jelas, setiap obrolan berubah menjadi adu ingatan tentang siapa melakukan apa.
Karena itu, langkah pertama bukan membagi tugas, tapi membuat semua tugas terlihat.
Langkah 1: tulis semua tugas rumah, termasuk yang tidak terlihat
Ambil kertas atau buka catatan di HP untuk menulis tugas rumah. Tulis berdua, jangan sendirian lalu menyodorkan hasilnya.
| Kelompok | Contoh tugas |
|---|---|
| Harian | Cuci piring, masak atau beli makan, merapikan tempat tidur, buang sampah, antar jemput anak |
| Mingguan | Mencuci dan menyetrika, belanja mingguan, membersihkan kamar mandi, mengepel |
| Bulanan | Bayar listrik, air, internet, cicilan; isi gas; servis kendaraan |
| Tidak terlihat | Mengingat stok kebutuhan, jadwal dokter dan sekolah anak, kado untuk keluarga, menyusun menu, mengecek tagihan |
Kenapa menulis berdua itu penting
Daftar tugas rumah yang ditulis satu orang mudah terasa seperti tuduhan. Daftar yang ditulis berdua terasa seperti pekerjaan bersama. Bedanya ada pada rasa dilibatkan, bukan pada isinya.
Menulis berdua juga sering membuka hal yang tidak diketahui. Pasangan yang jarang belanja mungkin tidak tahu bahwa membuat daftar belanja butuh mengecek isi kulkas dan lemari.
Gunakan kelompok harian, mingguan, bulanan, dan tidak terlihat seperti tabel di atas. Pengelompokan ini memudahkan pembagian di langkah berikutnya.
Daftar yang panjang itu bagus
Biasanya daftar ini lebih panjang dari yang kalian kira. Itu bagus, bukan tanda kegagalan.
Melihat daftar yang panjang membuat obrolan berpindah dari “kamu tidak pernah bantu” menjadi “ternyata kerjaannya sebanyak ini”. Fokusnya pindah dari menyalahkan ke mencari jalan keluar.
Simpan daftar ini. Kalian akan memakainya lagi saat evaluasi bulanan.
Langkah 2: buka obrolan dengan kalimat yang tidak menyerang
Waktu dan cara memulai obrolan soal tugas rumah menentukan hasilnya. Obrolan yang dimulai dengan nada marah hampir pasti berakhir dengan saling membela diri.
Pilih waktu yang santai
Jangan memulai saat salah satu baru pulang kerja, lapar, atau sedang kesal karena piring. Di saat seperti itu, energi untuk mendengar sedang habis.
Pilih waktu santai, misalnya Ahad sore setelah Ashar, saat anak sedang tidur siang atau bermain. Beri tahu pasangan sebelumnya bahwa kamu ingin membicarakan sesuatu.
Batasi durasinya, misalnya setengah jam. Obrolan yang tidak berujung justru melelahkan dan membuat topik ini terasa menakutkan.
Kalimat pembuka yang bisa dipakai
- “Aku lagi capek dan pengin kita atur ulang kerjaan rumah biar sama-sama enak. Boleh kita bahas sebentar?”
- “Aku sadar banyak hal yang selama ini cuma ada di kepalaku. Aku pengin kita tulis bareng supaya kamu juga tahu.”
- “Menurutmu, bagian mana yang paling berat buat kamu sekarang?”
Hindari kalimat yang dimulai dengan “kamu selalu” atau “kamu tidak pernah”. Kalimat seperti itu membuat pasangan sibuk membela diri, bukan mendengar.
Pakai kalimat “aku” yang menceritakan perasaanmu, lalu tutup dengan pertanyaan. Pertanyaan membuka ruang bagi pasangan untuk bercerita tentang bebannya juga.
Pilih waktu obrolan saat keduanya tidak lelah, misalnya akhir pekan setelah sarapan. Obrolan soal tugas rumah yang dimulai saat sedang kesal hampir selalu berubah jadi saling menyalahkan.
Langkah 3: bagi berdasarkan waktu dan kemampuan
Pembagian tugas rumah yang adil tidak harus 50:50 untuk setiap tugas. Yang perlu adil adalah total beban, dengan melihat jam kerja, jarak ke kantor, dan kondisi masing-masing.
Empat prinsip pembagian
- Satu tugas, satu pemilik. Pemilik tugas bertanggung jawab dari awal sampai akhir, termasuk mengingatnya. “Belanja mingguan” berarti membuat daftar, berbelanja, dan menata di rumah.
- Tugas tidak terlihat dihitung. Mengurus jadwal anak itu pekerjaan, bukan hobi.
- Pilih yang tidak terlalu dibenci. Kalau satu orang tidak masalah menyetrika tapi benci mencuci piring, tukar saja.
- Standar disepakati, bukan dipaksakan. Bersih versi siapa? Sepakati batas minimal yang realistis.
Prinsip “satu tugas, satu pemilik” adalah yang paling penting. Tugas yang dimiliki berdua sering berakhir tidak dimiliki siapa pun.
Prinsip kedua juga sering terlupa. Tugas seperti mengingat jadwal imunisasi atau memantau stok gas memang tidak terlihat, tapi menghabiskan perhatian setiap hari.
Tulis keempat prinsip ini di dekat daftar tugas kalian, supaya saat ada perselisihan kecil kalian bisa kembali ke kesepakatan yang sama.
Menyesuaikan dengan jam kerja
Pasangan yang pulang jam tujuh malam wajar mengambil lebih banyak tugas akhir pekan. Pasangan yang punya jam kerja fleksibel bisa mengambil tugas yang butuh dikerjakan di siang hari, seperti mengantar anak ke dokter.
Perhitungkan juga perjalanan. Dua jam di jalan setiap hari adalah waktu yang tidak bisa dipakai untuk pekerjaan rumah.
Kalau kalian menyusun hari per waktu sholat, tugas rumah bisa ditempelkan ke blok yang pas, misalnya cuci piring setelah Isya. Caranya ada di artikel mengatur jadwal mengikuti waktu sholat.
Contoh pembagian untuk dua situasi keluarga
Contoh di bawah hanya ilustrasi. Sesuaikan dengan kondisi rumahmu.
Suami dan istri sama-sama bekerja
| Tugas | Pemilik | Catatan |
|---|---|---|
| Sarapan dan bekal | A | Disiapkan malam sebelumnya |
| Cuci piring malam | B | Setelah Isya |
| Mencuci baju | A | Dua kali seminggu |
| Menyetrika | B | Sabtu pagi |
| Belanja mingguan dan stok | B | Termasuk membuat daftar |
| Tagihan bulanan | A | Setiap tanggal 26 |
| Jadwal anak dan sekolah | A dan B bergantian per bulan | Supaya keduanya paham |
Perhatikan bahwa tugas tidak terlihat seperti stok dan jadwal anak ikut masuk tabel. Jadwal anak dibuat bergantian supaya keduanya paham urusan sekolah dan kesehatan anak.
Untuk yang sama-sama bekerja dan sering merasa waktunya tidak cukup, ada pembahasan khusus di artikel ibu bekerja dan cara membagi hari, yang juga relevan untuk ayah.
Tabel seperti ini bisa disimpan di catatan bersama di HP, supaya keduanya bisa melihat dan mengubahnya kapan saja tanpa harus menunggu bertemu.
Satu bekerja di luar, satu di rumah
Pasangan yang di rumah wajar memegang lebih banyak tugas rumah harian di siang hari. Tapi jam kerja rumah juga perlu selesai, sama seperti jam kantor.
Pasangan yang bekerja di luar bisa memegang tugas setelah pulang dan akhir pekan, misalnya memandikan anak, cuci piring malam, dan belanja Sabtu.
Beri juga waktu istirahat yang jelas untuk pasangan yang di rumah. Pekerjaan rumah tidak punya jam pulang, jadi jedanya harus disepakati.
Melibatkan anak dalam tugas rumah
Begitu anak cukup besar, mereka bisa ikut memikul sebagian pekerjaan rumah, sesuai kemampuan masing-masing.
Libatkan anak sesuai usianya
Anak juga anggota rumah. Materi pengasuhan dan ketahanan keluarga dari Kementerian PPPA bisa jadi bahan obrolan tambahan. Melibatkan mereka sejak kecil meringankan beban orang tua sekaligus melatih tanggung jawab.
- Usia 3 sampai 5 tahun: menaruh mainan kembali ke kotak, membawa piringnya sendiri ke dapur.
- Usia 6 sampai 9 tahun: merapikan tempat tidur, menyiapkan tas sekolah, membantu menjemur pakaian.
- Usia 10 tahun ke atas: mencuci piring sendiri, menyapu kamar, ikut belanja dengan daftar.
Mulai dari satu tugas, lalu tambah perlahan. Anak yang diberi terlalu banyak tugas sekaligus cepat merasa terbebani.
Tugas anak juga bisa dikaitkan dengan rutinitas harian, misalnya merapikan mainan sebelum Maghrib. Patokan waktu yang sama setiap hari memudahkan anak mengingat.
Pujilah usahanya, bukan kerapiannya
Hasil tugas rumah yang dikerjakan anak jarang serapi orang dewasa. Menyapu yang masih menyisakan debu tetap usaha yang patut dihargai.
Anak yang sering dikoreksi cenderung berhenti mencoba. Puji usahanya dulu, lalu tunjukkan cara yang lebih baik di lain waktu.
Kebiasaan kecil ini membentuk rasa memiliki. Anak yang merasa ikut menjaga rumah biasanya lebih menghargai pekerjaan orang tuanya.
Menjaga kesepakatan supaya tidak bubar
Kesepakatan tugas rumah yang dibuat dengan baik pun bisa bubar dalam dua minggu. Penyebabnya biasanya kebiasaan lama yang muncul kembali.
Kesalahan yang membuat kesepakatan bubar
Kesalahan pertama adalah mengambil alih karena hasilnya kurang rapi. Kalau tugas sudah diserahkan, biarkan pemiliknya mengerjakan dengan caranya, selama standar minimal terpenuhi.
Kesalahan kedua adalah kalimat “kalau perlu bantuan, bilang saja”. Kalimat ini terdengar baik, tapi tetap meletakkan beban mengingat di satu orang.
Kesalahan lain adalah tidak ada waktu evaluasi, dan menghitung-hitung jasa saat sedang marah. Simpan evaluasi untuk waktu yang sudah disepakati.
Cek ulang sebulan sekali, cukup 15 menit
Jadwalkan evaluasi bulanan singkat di awal bulan dengan tiga pertanyaan: tugas mana yang berjalan lancar, tugas mana yang sering terlewat dan kenapa, dan adakah perubahan jadwal bulan ini yang perlu diatur.
Kondisi rumah tangga terus berubah, begitu juga tugas rumah. Anak masuk sekolah, jam kerja bergeser, atau ada bayi baru membuat pembagian lama tidak cocok lagi.
Obrolan ini sekaligus bisa dipakai untuk membahas uang. Kalau belum punya pembagian pos anggaran, lihat cara mengatur keuangan keluarga muda. Pasangan yang baru akan menikah juga bisa memasukkan topik ini ke checklist persiapan menikah.
Sabtu Pagi Berikutnya Bisa Jauh Lebih Tenang
Pembagian tugas rumah yang adil tidak dimulai dari siapa yang salah, tapi dari daftar yang ditulis berdua. Mulai sore ini dengan satu langkah: tulis daftar tugas rumah bersama, tanpa membagi apa pun dulu. Lihat daftarnya bersama, dan obrolan berikutnya biasanya jauh lebih mudah.
Tugas yang sudah dibagi tetap bisa terlewat kalau hanya diingat. Di LillahLife, tugas bagianmu bisa dicatat di daftar tugas lengkap dengan pengingat, lalu muncul di layar Hari ini bersama jadwal sholat. Tugas rutin seperti cuci baju dua kali seminggu bisa dibuat berulang dengan LillahLife Pro, sehingga beban mengingat pindah dari kepala ke HP.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah pembagian tugas rumah tangga harus 50:50?
Tidak harus per tugas. Yang perlu seimbang adalah total beban dengan melihat jam kerja, jarak perjalanan, dan kondisi masing-masing, termasuk tugas tidak terlihat seperti mengingat jadwal dan stok.
Bagaimana kalau pasangan menolak membicarakannya?
Mulai dari hal kecil dan konkret, misalnya satu tugas yang paling sering bikin tegang, di waktu yang santai. Daftar tugas tertulis sering membantu pasangan melihat besarnya pekerjaan tanpa merasa disalahkan.
Kalau sudah ada asisten rumah tangga, apakah masih perlu dibagi?
Tetap perlu, terutama tugas yang tidak dikerjakan asisten: tagihan, urusan anak, menyusun menu, dan mengatur asisten itu sendiri. Bagian mengatur ini sering jadi beban mental satu orang.
Seberapa sering pembagian perlu dievaluasi?
Cukup sebulan sekali sekitar 15 menit, atau setiap ada perubahan besar seperti anak masuk sekolah, pindah kerja, atau kelahiran anak.
Apa itu beban mental dalam pekerjaan rumah tangga?
Pekerjaan yang tidak terlihat, seperti mengingat stok kebutuhan, jadwal anak, dan tagihan, serta merencanakan menu. Beban ini sering dipikul satu orang dan perlu ikut dihitung saat membagi tugas.


