
Hampir semua orang pernah mengalaminya: duduk di kajian dengan penuh perhatian, pulang membawa semangat, lalu beberapa hari kemudian hanya ingat judulnya.
Ingatan memang cepat memudar kalau tidak dibantu.
Karena itu cara mencatat kajian yang tepat bisa membuat ilmu yang kamu dengar bertahan jauh lebih lama, dan lebih mungkin diamalkan.
Tulisan ini membahas kerangka catatan lima bagian, teknik menangkap poin, cara merekam ucapan pemateri menjadi transkrip di HP, sampai mengubah catatan menjadi kebiasaan.
Kenapa catatan kajian sering tidak terpakai
Sebelum membahas cara mencatat kajian, kenali dulu dua masalah yang paling sering terjadi.
Terlalu panjang atau terlalu acak
Masalah paling umum adalah catatan yang terlalu panjang atau terlalu acak.
Saat dibuka lagi, isinya sulit dipahami karena ditulis terburu-buru tanpa susunan.
Akhirnya catatan itu tidak pernah dibuka lagi.
Berhenti sebagai catatan
Masalah kedua, catatan berhenti sebagai catatan.
Tidak ada satu pun yang diubah menjadi tindakan, sehingga tidak ada alasan untuk membukanya lagi.
Cara mencatat kajian yang baik selalu berakhir dengan satu hal yang ingin dikerjakan.
Cara mencatat kajian dengan kerangka 5 bagian
Kerangka membuatmu tahu apa yang perlu ditangkap. Kamu tidak perlu menulis semuanya.
Isi kerangkanya
- Identitas. Judul atau tema kajian, nama pemateri, tempat, dan tanggal.
- Tiga poin yang paling kuingat. Tulis dengan kalimatmu sendiri, bukan menyalin kata per kata.
- Rujukan yang disebut. Catat nama kitab, surat, atau nomor yang disebutkan pemateri supaya bisa kamu cek sendiri di sumber aslinya nanti.
- Pertanyaan. Hal yang belum kamu pahami dan ingin ditanyakan atau dipelajari lagi.
- Satu hal yang ingin kuamalkan. Bagian paling penting dari seluruh catatan.
Kerangka ini membuat setiap catatan punya bentuk yang sama. Saat dibaca ulang berbulan-bulan kemudian, kamu langsung tahu harus melihat bagian mana.
Tidak semua bagian harus terisi penuh. Kalau pemateri tidak menyebut rujukan, kosongkan saja bagian itu daripada menebak.
Tulis poin dengan kalimat sendiri. Menyalin kata per kata membuat catatan panjang tapi sulit dipahami saat dibaca ulang.
Contoh catatan yang ringkas
| Bagian | Contoh isi |
|---|---|
| Identitas | Kajian Sabtu malam, tema mengatur waktu, masjid dekat rumah, tanggal hari ini |
| Tiga poin | Rencanakan besok sejak malam; kerjakan yang berat di pagi hari; sisakan waktu untuk keluarga |
| Rujukan | Nama kitab dan bab yang disebut pemateri, untuk dicek sendiri |
| Pertanyaan | Bagaimana menerapkannya untuk kerja shift? |
| Satu amalan | Menulis tiga tugas terpenting setiap malam selama sepekan |
Catatan seperti ini muat dalam satu layar HP dan bisa dibaca ulang dalam satu menit. Di Catatan LillahLife, kategori Catatan kajian sudah menyediakan pertanyaan pemandu seperti ini, jadi kamu tidak mulai dari halaman kosong.
Catatan seperti ini cukup setengah halaman. Ringkas, tapi lengkap untuk mengingat isi kajian dan mencari rujukannya lagi.
Kalau ada bagian yang kurang jelas, tulis sebagai pertanyaan untuk ditanyakan kepada pemateri di pertemuan berikutnya.
Teknik menangkap poin saat mendengarkan
Bagian tersulit dari cara mencatat kajian adalah menulis tanpa ketinggalan penjelasan.
Dengarkan dulu, tulis kemudian
Tunggu sampai satu penjelasan selesai, lalu tulis intinya dalam satu atau dua kalimat.
Menyalin kata per kata membuat tanganmu sibuk menulis, sementara pikiranmu tertinggal dari penjelasan.
Catatan yang berisi lima poin jelas lebih berguna daripada dua halaman yang tidak terbaca.
Singkatan dan tanda
Pakai singkatan yang konsisten, asal kamu sendiri paham saat membacanya lagi.
Tandai yang penting, misalnya tanda bintang untuk poin utama dan tanda tanya untuk hal yang perlu dicek.
Dengan tanda yang sama setiap kali, membaca ulang jadi jauh lebih cepat.
Rekam ucapan pemateri jadi tulisan
Kalau kamu sulit mendengarkan sambil menulis, ada cara mencatat kajian yang lebih ringan: biarkan HP yang mencatat.
Langkah memakai Mode kajian
- Buka Catatan, lalu ketuk Rekam kajian.
- Pilih bahasa pemateri, Indonesia atau English.
- Letakkan HP dekat pengeras suara atau pemateri, lalu ketuk Mulai.
- Biarkan layar tetap menyala dan aplikasi tetap terbuka. Teks muncul dengan penanda menit dan tersimpan sendiri.
- Selesai kajian, ketuk Selesai, lalu baca ulang dan tandai poin utamanya.
Hasil rekaman bergantung pada posisi HP dan kejernihan suara. Coba duduk lebih dekat ke pengeras suara untuk hasil yang lebih baik.
Minta izin panitia atau pemateri sebelum merekam, terutama di majelis kecil. Sebagian kajian memang tidak mengizinkan rekaman.
Rekaman tulisan ini membantu, tapi tetap baca ulang dan cocokkan dengan catatan kajian yang kamu tulis sendiri.
Bagaimana suaranya diproses
Suara diubah menjadi teks oleh layanan dikte bawaan browsermu, lewat teknologi yang dikenal sebagai Web Speech API.
LillahLife hanya menerima teksnya, tidak menyimpan rekaman suara. Fitur ini gratis untuk saat ini.
Cara kerja dan batasannya dijelaskan di artikel speech to text bahasa Indonesia gratis.
Cek ulang transkrip dan rapikan catatan
Merekam adalah cara mencatat kajian yang praktis, tapi hasil pengenal suara adalah transkrip kasar, jadi perlu dirapikan sebelum dipakai.
Cocokkan dengan sumber aslinya
Nama orang, istilah bahasa Arab, dan kutipan dalil sering tertulis keliru karena mesin menebak dari bunyi.
Karena itu, jangan menyebarkan transkrip mentah sebagai kutipan. Cocokkan rujukan yang disebut pemateri dengan sumber aslinya.
Minta izin pemateri sebelum membagikan catatanmu ke orang lain.
Rapikan dengan AI tanpa mengubah isi
Fitur Rapikan dengan AI di Catatan menyusun tulisanmu menjadi judul, poin, dan ringkasan tanpa mengubah isinya, lalu menyarankan tugas atau kebiasaan dari apa yang kamu tulis.
AI di LillahLife tidak menambah ayat, hadits, atau pendapat. Kutipan yang ada di catatanmu tetap utuh, dan hasilnya hanya usulan sampai kamu memakainya.
Contoh sebelum dan sesudahnya ada di artikel merapikan catatan berantakan dengan AI.
Ubah catatan menjadi tindakan
Ujung dari cara mencatat kajian ada di bagian Satu hal yang ingin kuamalkan, yang baru berguna kalau kamu benar-benar mengerjakannya.
Tugas atau kebiasaan
Jadikan tugas dengan tanggal, misalnya menjenguk tetangga hari Sabtu.
Kalau sifatnya rutin, jadikan kebiasaan dengan pengingat. Di LillahLife, kebiasaan itu muncul di layar Hari ini lengkap dengan streak-nya.
Cara membangunnya ada di artikel habit tracker untuk muslim.
Bawa ke kajian berikutnya
Sebelum berangkat ke kajian pekan depan, buka catatan pekan ini dan lihat bagian pertanyaan.
Kalau ada kesempatan bertanya, kamu sudah siap. Kalau tidak, kamu tetap bisa mencari jawabannya dari sumber yang disebut pemateri.
Kebiasaan kecil ini membuat setiap kajian tersambung dengan kajian sebelumnya.
Menyimpan catatan dan kesalahan dalam cara mencatat kajian
Cara mencatat kajian juga mencakup cara menyimpannya, karena catatan baru berguna kalau mudah ditemukan lagi.
Simpan di satu tempat
Beri judul yang jelas, pakai kategori yang sama untuk semua catatan kajian, dan cantumkan nama pemateri di judul atau awal catatan.
Menulis tangan membantu sebagian orang lebih fokus, sedangkan HP memudahkan pencarian. Banyak orang memadukan keduanya: menulis poin di buku saat kajian, lalu memindahkan ringkasannya ke aplikasi di malam hari.
Semua catatan di LillahLife bersifat pribadi dan bisa dibuka dari HP maupun laptop. Fitur lengkapnya ada di halaman Catatan & suara.
Kesalahan yang sering terjadi
- Tidak mencatat rujukan. Tanpa nama sumber, kamu tidak bisa mengecek ulang apa yang disampaikan.
- Tidak memberi judul. Catatan berjudul “Kajian” saja akan tenggelam di antara puluhan catatan lain.
- Menyimpan di banyak tempat. Sebagian di buku, sebagian di galeri, sebagian di grup chat. Pilih satu tempat.
- Tidak pernah dibaca ulang. Jadwalkan lima menit membaca catatan minggu lalu sebelum kajian berikutnya.
Kesalahan ini membuat catatan yang sudah ditulis dengan susah payah jadi sulit dipakai. Perbaikannya sederhana dan cukup dilakukan sekali.
Pilih satu tempat penyimpanan dan satu format judul, misalnya tanggal ditambah tema. Dengan begitu, semua catatan kajian mudah dicari.
Sisihkan lima menit di akhir pekan untuk membaca ulang catatan minggu itu. Kebiasaan kecil ini membuat ilmu lebih lama diingat.
Ilmu dari Kajian Minggu Ini Tidak Perlu Hilang Minggu Depan
Siapkan kerangka lima bagian tadi, rekam bila perlu, lalu tutup dengan satu hal yang ingin kamu kerjakan minggu ini. Cara mencatat kajian yang sederhana seperti ini cukup untuk membuat ilmu bertahan lebih lama.
Kamu bisa mencoba Mode kajian langsung di lillah.life/app pada kajian berikutnya.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah boleh merekam kajian di masjid?
Untuk catatan pribadi, banyak orang melakukannya. Tetap hormati aturan tempat dan minta izin pemateri sebelum menyebarkan catatan atau transkripnya.
Apakah Mode kajian menyimpan rekaman suara?
Tidak. Suara diubah menjadi teks oleh layanan dikte browser, dan LillahLife hanya menyimpan teksnya di catatanmu.
Bagaimana kalau kajiannya dalam bahasa Inggris?
Pilih English sebagai bahasa pemateri sebelum mengetuk Mulai. Teksnya akan ditulis dalam bahasa Inggris.
Apakah Mode kajian bisa dipakai tanpa internet?
Pengenal suara di browser umumnya membutuhkan koneksi internet. Pastikan HP tersambung selama kajian berlangsung.
Perlukah menulis semua yang disampaikan pemateri?
Tidak. Cukup isi kerangka: identitas kajian, tiga poin utama dengan kalimatmu sendiri, rujukan yang disebut, pertanyaan, dan satu hal yang ingin diamalkan.


